Alibi Ego: Ketakutan Akan Kemusnahan Dalam Bungkus Hiroisme

0
509
Fenansio Deyesus (Gambar Portalmalang.com)

Portalmalang.com- “Gerakan ekologi untuk menyelamatkan bumi. Terdengar sangat lucu. Dari dulu sampai sekarang, bumi akan tetap ada. Betapa kesombongan yang arogan mengatakan bahwa kita harus menyelamatkan bumi. Harusnya kita berterus terang saja, bahwa usaha kita selama ini, bukan dalam rangka untuk menyelamatkan bumi, tetapi yang sebenarnya adalah usaha kita untuk menyelamatkan diri sendiri dari ancaman penihilan kita oleh bumi,” demikian ungkap Paulo Coelho dalam novelnya The Winer Stand Alone. Sebuah novel yang sangat apik. Berkisah tentang kehidupan seseorang pengusaha kaya asal Rusia, yang sedang berusaha merebut kembali perhatian istrinya yang telah pergi meninggalkan dirinya.

Tetapi dalam tulisan ini, bukan cerita dalam novel itu yang ingin saya ulas. Saya hanya ingin memakai kutipan dalam novel Paulo Coelho itu sebagai titik berangkat dalam membahas sesuatu yang lain, yaitu tentang isu-isu ekologi yang pada saat sekarang ini tengah cukup ramai menjadi buah bibir dari masyrakat. Secara pribadi saya memang sangat setuju dengan Paulo Coelho. Dalam upaya untuk menjaga dan melestarikan ekosisitem tempat tinggal kita selama ini, selalu saja dipake ideom-ideom herois, bahwa kita adalah penyelamat bumi ini, bahwa bumi harus diselamatkan dan lain sebagainya. Dalam ideom-ideom itu, kita tampil sebagai pahlawan bagi bumi.

Ketika melakukan itu, sebenarnya kita sedang menololkan diri kita sendiri, sebab sebenarnya dalam kata-kata itu, kita menyembunyikan rasa takut kita akan kemusnahan kita sendiri oleh bumi. Adalah bukan suatu rahasia lagi, bahwa bumi ini pernah tidak dihuni oleh manusia, dan dalam keadaan itu, bumi tampak baik-baik saja. Justru karena keberadaan kitalah, rasa-rasanya bumi ini menjadi rusak, alih-alih menjadi hero bagi bumi. Bukanlah keberadaan kita yang memungkinkan adanya bumi ini beserta isinya, melainkan karena keberadaan bumi ini dengan segala sisitem alam yang mendukung kehidupan yang ada di dalamnya, itulah yang memungkinkan keberadaan kita manusia.

Revolusi industri yang terjadi pada abad ke-18 dan ke-19 Masehi di Eropa , menjadi titik awal rakusnya manusia dalam merusak bumi. Ditemukannya teknologi-teknologi yang dapat bekerja dengan cepat, yang tentu saja dapat menghasilkan keuntungan yang besar, membuat para pemilik modal atau orang-orang kaya pada masa itu seperti lupa daratan. Perkebunan yang tadinya hanya dikerjakan dalam sekala kecil, kini berganti menjadi industri perkebunan, yang menanam satu jenis tanaman di atas lahan yang luasnya bisa berhektar-hektar, entah itu untuk kebutuhan pabrik tekstil, kebutuhan pangan, kecantikan dan gaya hidup mewah lainnya yang itu kemudian akan berkembang dan membentuk sebuah masyarakat yang sangat konsumeristis.

Dalam perkembangannya, revolusi industri itu melahirkan sisitem kapitalisme dengan segala daya persuasinya, dapat setiap saat mengoda manusia-manusia untuk terus mengkonsumsi. Pada mulanya sistem kapitalis itu mendidik masyarakat untuk menjadi masyarakat yang konsumtif, lalu lama-kelamaan karena masyarakat telah menjadai terbiasa, maka masyarakat sendirilah yang dengan sadar dengan rakusnya mengkonsumsi produk-produk yang dihasilkan oleh para kapitalis itu dan pada gilirannya, menjadi pendorong untuk terus berkembangnya sistem kapitalis itu.

Melihat kebutuhan pasar yang besar akan bahan-bahan seperti Bahan Bakar Fosil (BBF) untuk pembangkit tenaga listrik dan lainnya, minyak untuk produk kecantikan dan pangan, kapas untuk kebutuhan tekstil, menjadi alasan yang kuat bagi para kapitalis untuk dengan tidak tangung-tangung mengeksploitasi, menguras dan merusak bumi dengan cara menggunduli hutannya untuk perkebunan, menggunduli hutan untuk pertambangan. Hasil akhir dari pada adegan kerasukan terhadap kerakusan akan kosumeristis itu, adalah bencana alam yang datang menyerang diri manusia itu sendiri, entah itu berupa wabah kekurangan makanan di daerah tertentu, wabah penyakit, banjir, pemanasan gelobal, kebakaran hutan dan masi banyak hal buruk lainya yang sudah terjadi akibat karakusan manusia itu.

Berdasarkan laporan-laporan yang disampaikan oleh media massa kita hari-hari ini, mengungkapkan terdapat sejumlah daerah di Indonesia yang terkena bencana banjir. Di Jawa Timur ada beberapa wilayah yang teredam banjir pada bulan november ini, diantaranya kota Batu dan kota Malang, Ibu Kota Jakarta, Sintang Kalimantan Barat, beberapa wilayah di Garut Jawa Barat dan Aceh Tenggara. Bukan saja hanya terjadi banjir, tetapi juga longsor karena tingginya intensitas hujan yang cukup signifikan pada bulan ini. Beberapa tahun belakangan, juga ramai dibicarakan tentang pemanasan gelobal.

Lantaran apakah semua bencana alam itu terjadi, apakah mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita, apakah kita harus bertanya pada ilalang. Tidaklah perlu membawa-bawa atau menyeret Tuhan kedalam perbuatan tolol kita sendiri, tidak jugalah perlu bertanya pada ilalang untuk mendapat jawabannya. Kita dengan sadar dan jujur dapat berkata bahwa kitalah para aktor yang bermain diatas pangung pengrusakan itu. Kita adalah aktor utamanya. Biasanya paling enak kita akan menyalakan orang-orang kaya atas kerusakan dan bencana alam yang terjadi, atau jika tidak adalah negara, karena merekalah yang paling bertanggung jawab, karena yang mendapat keuntungan paling banyak. Tetapi sebenarnya tidaklah begitu adanya, sebenarnya kitalah yang paling bertangung jawab atas kerusakan-kerusakan alam yang terjadi itu. Sebab begini logikannya, dan ini adalah logika pasar, bahwa jika ada permintaan maka akan ada persediaan.

Selama kita masi menjadi homo consumericus, maka selama itu pula, eksploitasi alam dan pengrusakan alam akan terus terjadi, dan dampak dari pada itu semua adalah bencana alam yang sudah kita lihat dan alami sendiri. Karena tingginya kebutuhan kita akan konsumsi itu, menyebabkan tiada hentinya deforestasi yang dilakukan baik oleh negara maupun oleh suasta. Hilangnya hutan, berarti hilangnya kenakaragaman hayati yang ada di dalamnya, hilangnya hutan juga berarti hilangnya daerah penyerapan air dan daerah penyimpanan air. Hanya karena adanya hutanlah suatu wilayah pada musim hujan akan selamat dari banjir dan jika pada musim kemarau akan selamat dari kekeringan.

Jadi jika selama ini kita mengangap bahwa diri kita ini sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk berbuat sesuatu untuk menyelamatkan spesis kita dari kemusnahan, karena perbuatan yang tidak ramah yang dirasakan oleh bumi ini, maka kita salah. Dengan cara mengatur apa-apa yang akan kita konsumsi dengan sebijak mungkin, maka kita sudah bisa membantu memperlambat kerusakan bumi atau bahakan menghentikan kerusakann itu, agar rumah kita yang memberikan kepada kita kemungkinan untuk terus hidup di dalamnya ini tetap asri, aman dan ramah untuk kita tinggali. Kita manusia dengan ke-egoannya selalu dapat mengatasi persoalan apa-pun yang jika itu berkaitan dengan keberlangsungan eksistensi hidup kita. Sejarah membuktikan bahwa manusia dapat bertahan, dan sekarang telah seperti yang paling dominan berperan dalam menentukan kemana arah keberlangsungan bumi, rumah kita bersama ini melangkah. Untuk itu mari kita jujur, ketika sedang melakukan upaya reforestasi, reboisasi, upaya pembersihan lingkungan dari plastik dan menjadi homo sapiens (manusia bijak) bukan homo consumericus, kita sedang menyelamatkan diri sendiri, bukan yang lain, apa lagi menyelamatkan bumi.

(* Oleh: Fenansio Deyesus, Asal Intansi Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang)

(* Tulisan Artikel ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Portalmalang.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here