Ketidakyakinan akan Cinta

0
375
Ketidakyakinan akan cinta (Maria Noviana Kii)

Portalmalang.com- “Kring….kring….kring”,dering alarm berbunyi.

“Arrrgghhh.…”suara nafas malas ku

Kupaksakan kedua bola mataku menatap langit langit kamar dan dengan kedua tangan ku singkirkan selimut dari tubuhku, rasanya tubuh ini masih ingin merasakan hangatnya balutan selimut itu.

Kududuk dipinggir tempat tidur sambil kuucapkan syukur dan merenggangkan tubuh.

Aku berjalan menyusuri kamar mandi untuk membasuh tubuhku, berdandan dan  bersiap siap untuk melakukan aktivitasku hari ini. Ya hari ini merupakan hari pertamaku melakukan kegiatan ekstrakulikuler dikampus yang diadakan disetiap hari sabtu.

“Hay Viani”, sapa Ani sahabatku yang melihatku berjalan menyusuri emperan jalan

“Hay….”jawabku sambil tersenyum

Kami berduapun berjalan menyusuri emperan jalan itu sambil berbincang bincang

“Setibanya di kampus”.

Kami menyusuri koridor kampus sambil menyapa beberapa senior yang yang akan membimbing kami dalam kegiatan ekstrakulikuler ini.

Perhatian untuk semuanya silahkan berbaris menurut kelompok yang sudah ditentukan “ ucap salah satu senior kegiatan tersebut.

Tanpa berpikir panjang kamipun berbaris sesuai dengan kelompok kami masing – masing. Aku berada di kelompok 25. Ya angka jauh karena anggota yang mengikuti kegiatan itu sekitar ribuan lebih.

“Kegiatanpun dimulai.”

Di tengah berjalannya kegiatan tersebut aku merasakan ada sesuatu yang janggal, perasaan ku tidak tenang, Akhirnya akupun mencari tahu apa yang membuatku risih seperti ini. Setelah aku melirik disekelilingku, ternyata kedua bola mata itu sedang menatapku dari kejauhan, segera wajah kupalingkan dari pandangan itu. Hitungan detik sosok itu berada dibelakangku..

“Uhhh….(kesal)

 “Hy….” sapanya

“Iya”, jawabku dingin tanpa menatap wajahnya

“Maaf (sambil mengulurkan tangannya) namamu siapa?”, tanyanya kepadaku

“Viani”,jawabku dingin tanpa ku balas uluran tangan itu

“Oh ya,viani perkenalkan Aku Anggara kamu bisa panggil Aku Angga”.

“Oh iya”, jawabku dingin.

Setelah itu kamipun berbincang – bincang dan bertukaran nomor telepon, tapi masih dengan sikap  dinginku.

“Kegiatanpun selesai dan semua peserta bubar”.

Drrrrtttt….dering handpone, aku mengecek handphone, ada Notif pesan dari nomor yang tak Aku kenal, tapi masih sempat ku balas. Aku pikir itu pesan penting. Setelah membalas beberapa pesannya ternyata dia lelaki tadi.

Seiring berjalannya waktu, dia tidak pernah berhenti untuk menanyakan kabarku

Hari – hari kegiatan ekstrakulikulerpun berjalan degan lancar dan dia semakin akab denganku.

“Semakin lama kita berteman ternyata kamu orangnya humble ya ?.. Tak sedingin yang aku kenal waktu pertama kali” kata Anggara dalam chatinggannya

“Hhhh…Aku bersikap dingin itu sama orang yang belum ku kenal” balasku dengan senyuman di bibirku

 Kamipun chatingan sampai akhirnya Aku merasa asik, dan kerap beberapa kali Anggara mengajakku untuk bertemu dan jalan. Setelah sekian lama kami berkenalan, Anggara memberanikan dirinya untuk mengungkapkan perasaannya.

“Viani, sebentar sore, temanin Aku main volley, boleh ?”ajak Anggara

“Hmm….gimana ya (pikirku), yaudah entar kalo ada waktu aku jalan”.

“Sore hari dengan pakaian sport dan sepatu kets Anggara datang”.

“Viani .…ada tamu “, panggil Ani sahabatku

“Siapa Ani?” tanya ku, Sembari keluar dan mengintip.

 “Ohhh bilang sebentar ya”. Jawab ku dari kamar

Tak lupa Aku mengajak sahabatku Ani.Rita dan Waty.

“Budaya cewek, setiap kali di ajak jalan pasti lama”.. Gurau Anggara

“wee namanya juga cewek” jawabku sambil mengangkat kedua bahuku

“Ayoo”,ajak ku pada Anggara

Dalam perjalanan kami menuju lapangan volley Aku dan Anggarapun bercanda tawa. Tak terasa langkah kamipun terhenti di sebuah lapangan volley yang minimalis. Setelah bermain kamipun istrahat sejenak. Ani adalah sahabatku yang paling humoris, dengan kata humorisnya dia sering menggodaku dengan Anggara. Wajahkupun seketika berubah menjadi merah jambu. Akhirnya semua ikut menggodaku. Candaan singkat tersebut usai  karena matahari sudah memberi isyarat bahwa sudah petang. Rita,Ani,Waty pun berlarian sambil bercanda gurau dalam perjalanan pulang. Akupun ditinggal berdua sama Anggara

Dalam keheningan kami berdua, Aku mulai mencairkan suasana.

“Angga, maaf ya soal yang tadi. Ani emang bercandanya begitu” kataku pada Anggara.

“Ya nggak apa – apa kali Vi…Aku senang kok” ucap Anggara sembari tersenyum kecil kepadaku.

“Apaan sih kok senang” ucapku salting. Keadaan kembali hening dan tiba – tiba Anggara mengatakan sesuatu.

“Ehmm….Vi. Kamu mau nggak jadi pacar Aku” ucap Angga dengan memberanikan dirinya sambil mengepal kedua tangannya

Sontak Akupun kaget, “Maaf’ Ucapku lirih dan berjalan lebih cepat dari langkah Anggra.

“Ani,waty tungguin aku dong,” panggilku dengan suara berat

“ Viiiii.. heiii..Sori” Ucap Angga dari kejauhan.

“Tibalah di Apartemen”.

“Ehm….Anggara Aku pamit masuk ya,hati hati dijalan”. Kataku padanya

“ Vi..em “ Aku memotong perkataan Anggara

“Nanti aja bahasnya Ang, Aku capek, bye hati-hati ya” Ucapku dan menutup pintu. Anggarapun tidak melanjutkan kata – katanya dan pulang.

Setelah kejadian itu, Aku dan Anggara memilih untuk tidak membahas kejadian itu lagi, namun itu tidak membuat Anggra menyerah, dia masih sering menghubungiku, ajak jalan. dan kedua kalinya dia mengutarakan lagi perasaannya  kepadaku, mendengar itu Aku tidak syok tapi kali ini Aku menanyakan pendapat dari sahabatku. Pandangan dari mereka, Anggara adalah sosok yang baik, perhatian dan tentunya tidak seperti pria lain. Akupun masih dalam keadaan terdiam sambil bertanya – tanya “Terima apa Nggak”. Dan untuk kedua kalinya Aku masih dengan jawaban yang sama “belum untuk sekarang”. Namun disisi lain untuk ketiga kalinya dia mencoba lagi mengungkapkan perasaanya kepadaku, jujur hatiku belum menerimanya. disisi lain pikiranku mengatakan bahwa“ jika Aku tidak menerimanya mungkin Aku adalah wanita yang paling menyesal jika menyia – nyiakan laki – laki seperti Anggara”,Setelah hati dan pikiranku berdiskusi akhirnya bibirku mengucapakan kata “ Ya “.Walaupun dalam hatiku belum sepenuhnya menerima dirinya. Tetapi bagi Anggara itu membuat hatinya senang.

Hari-hari yang kujalani dengan Anggara setelah hubunganku resmi dengannya tidak begitu indah bagiku. Tidak seperti pasangan lain yang romantic. Aku kembali kesikap dinginku padanya, Entah mengapa tidak seakrab seperti biasanya. Aku tidak ingin jatuh hati kepada siapapun, Alasan aku menerimanya karena aku percaya padanya dan menghargai usahanya mendekatiku. Anggara bisa menerima sikapku dan tetap memberikan perhatiannya kepadaku. Setelah beberapa bulan menjalin hubungan dengannya pernah terlintas di fikiranku untuk mengakhiri hubungan ini. Karena aku merasa tidak adil padanya. Dia dengan tulus sayang padaku namun sebaliknya Aku belum bisa untuk menyayanginya. Hingga akhirnya pikiran terbut terkabulkan dengan alasan yang tidak jelas Aku memutuskan hubungan dengannya secara sepihak. Anggara berulangkali bertanya alasannya apa dan terus meminta maaf, Anggara menyangka dia membuat kesalahan. Aku hanya terdiam ketika Anggara bertanya. Waktu terus berputar.

“ Drrrt…..” dering telfonku membangunkanku

“Halo Vi,bangun gih udah siang”,sapa suara dari seberang telefon.

“Anggara?”.sontak Aku kaget.”iya nih Aku udah bangun,” jawabku

Walau sudah tidak ada status Anggara tidak pernah memutuskan komunikasi denganku. Begitulah hari-hariku saat putus dengan Anggara, Perhatian itu masih ada, Masih sama seperti dulu. Aku mengajak hati dan pikiranku berdiskusi kembali dan merenungkan kembali keputusanku. “Anggara adalah sosok yang baik, tidak sepantasnya aku memperlakukannya seperti ini”. Aku mulai membuka lagi hatiku untuknya serta berusaha menerima dia sepenuhnya, meskipun hatiku belum meyakinkan itu. Namun lama – kelamaan rasa sayang itu muncul dalam hatiku disertai rasa takut akan kehilangan Anggara mulai muncul. aku mulai mengerti bahwa perasaanku yang sesungguhnya kepada Anggara seperti yang aku rasakan sekarang.” Aku bisa menyanyanginya”.

Perhatian dan rasa sayangku pada Anggara mulai besar. Namun sebaliknya perhatian Anggara tidak seperti biasanya. Aku merasa semuanya berubah. Anggara berubah.

”Sesuatu yang kutakutkan tidak jatuh hati kepada siapapun adalah ini.” Ucapku dalam hati. Suatu saat Anggara seperti biasa menghubungiku (chat)

“Vi….lagi dimana?”, “sibuk nggak?”.Pesan Anggara

“Nggak sibuk sih Angga, kenapa?”,balasku

“Bisa nggak kita ketemu ada hal penting yang mau Aku bicarakan sama kamu”, balas Anggara

“Emang sekarang ya?”, “Hal apa sih kelihatannya penting amat?”, jawabku dengan hati deg degan dan dengan rasa penasaran.

“Viani….Vi….temanmu nih”, panggil salah seorang temanku

“Ya sebentar”….dengan langkah yang berat, Akupun mendekati Anggara dan duduk didekatnya.

“Ada apa Anggara?”,tanya ku  penasaran

“Eheh..nggak apa apa?” Tawa kecil Anggara sambil menatap ku. “Takut ya?” Lanjutnya..

“Apaan sih…kenapa?” “Buat penasaran saja”,timpalku

“Vi..sebenarnya..tapi nggak tega sih”,kata Anggara

Aku hanya diam dan sambil menunggu yang dikatakan Anggara.

“Emm…Vi, Aku rasa hubungan kita ini cukup sebatas kakak adik,walaupun sebatas kakak adik, Aku tetap menjaga kamu”,kata Anggara terbata – bata.

Mendengar kalimat itu badanku serasa berada dilautan es dimusim kemarau,dengan wajah tertunduk sontak air matakupun jatuh membasahi pipiku.

“Vi.…Aku minta maaf sebelumnya”, kata Anggara meraih tanganku

Segera mungkin ku jauhkan tanganku. Ingin ku tanyakan alasannya, Ingin Aku berteriak sekeras mungkin dihadapannya. Ingin Aku menggapar wajahnya. Semuanya itu ingin Aku lakukan dihadapannya. Namun Aku tak sanggup hatiku tak berpihak padaku dan bibirkupun lebih memilih untuk terdiam. Tanpa menanggapi pernyataannya Aku bangun dan dengan langkah kaki yang berat serta rasa tidak percaya bahwa apa yang ku takutkan benar – benar terjadi Aku meninggalkanya. Kuhempaskan badan di atas kasur dan air mata ini terus saja membanjiri pipiku.

“Vii.…Vi kamu kenapa?”..tanya waty yang sedang makan.Seketika semuanya hening lalu mereka bertiga bertanya – tanya,ada apa dengannya?. Tak bisa aku jelaskan apa apa, Penghianatan itu begitu sangat menyakitkan. Perasaan membenci sosok cintapun meluap-luap dalam mata batinku.Anggarapun berusaha meminta maaf dan sebisa mungkin meghubungiku (chat,DM,serta telfon) tapi tak kuhiraukan, apalagi Aku tahu alasan dia meninggalkanku hanya karena memiliki sosok wanita lain dalam hatinya.

Aku sangat menyesal karena sebelumnya tidak mempercayai ketidakyakinan dalam hatiku dan menganggap cinta itu tidal berkhianat.

Ya.…ya.…ya….Aku mengerti, bukannya Aku membenci cinta tapi Aku membenci Dia yang membawa cinta itu dalam hidupku. Patah hati dalam ,permainan dan penghianatan cinta.

*)Penulis Maria Noviana Kii, Mahasiswa Universitas Trubhuwana Tunggadewi Malang
*)Tulisan ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi portalmalang.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here