Menag Terbitkan Edaran Penggunaan Pengeras Masjid dan Musala, Maksimal 100 dB


Portalmalang.com- Menteri Agama, Yaqut Cholil Choumas menerbitkan edaran yang mengatur tentang penggunaan pengeras masjid dan musala yang harus diatur sesuai kebutuhan, yaitu sebesar 100 dB. Hal ini tercantum dalam Surat Edaran Menteri Agama No SE 05 tahun 2022 tentang Pedoman Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musala, Rabu (23/02).

Dalam surat edaran yang terbit pada tanggal 18 Februari 2022 tersebut ditujukan kepada Kepala Kanwil Kemenag Provinsi, Kepala Kantor Kemenag Kabupaten/Kota, Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan, Ketua Majelis Ulama Indonesia, Ketua Dewan Masjid Indonesia, Pimpinan Organisasi Kemasyarakatan Islam, dan Takmir/Pengurus Masjid dan Musala di Seluruh Indonesia. Di samping itu, sebagai tembusan edaran ini juga ditujukan kepada Gubernur dan Bupati/Walikota di seluruh Indonesia.

Menag menyampaikan penggunaan pengeras suara yang ada di Masjid dan Musala merupakan salah satu media syiar Islam yang menjadi kebutuhan di tengah masyarakat. Namun, masyarakat yang ada di Indonesia juga sangat beragam baik dari sudut agama, suku, keyakinan, atau pun yang lainnya.

“Tujuan dikeluarkannya surat edaran tersebut yang pasti untuk merawat keharmonisan sosial yang berada di masyarakat,” ujarnya.

Dalam edaran tersebut dijelaskan bahwa penggunaan pengeras suara yang digunakan di luar dan di dalam masjid harus dipisahkan. Penggunaan pengeras suara ketika pembacaan Al-qur’an dan solawat yang dilakukan sebelum azan subuh memiliki durasi sepanjang 10 menit. Sedangkan pelaksanaan sholat subuh, dzikir, dan doa menggunakan pengeras suara dalam.

Hal ini juga berlaku ketika waktu Zuhur, Ashar, Maghrib dan Isya dengan menerapkan waktu pembacaan Al-qur’an dan solawat sebelum azan paling lama 5 menit dan sesudahnya menggunakan pengeras suara dalam.

Sedangkan pelaksanaan sholat Jum’at dalam pembacaan Al-qur’an dan solawat diberikan durasi 10 menit dalam menggunakan pengeras suara luar. Untuk penyampaian terkait hasil infaq sedekah, khutbah Jum’at, Sholat, dan dzikir/doa dilakukan dengan menggunakan pengeras suara dalam.

Selain itu, dalam pelaksanaan syiar Ramadan seperti tadarus, tarawih, dan kajian Ramadan menggunakan pengeras suara bagian dalam. Untuk pelaksaan Hari Besar Islam seperti Sholat Idul Fitri, gema Takbir, Sholat Idul Adha menggunakan pengeras suara luar.

Ketua bidang Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Asrorun Niam Sholeh mengapresiasi terkait terbitnya surat edaran ini. Apalagi sebagai wujud kemaslahatan umat beragama.

“Saya mengapresiasi atas terbitnya SE ini sebagai bagian upaya dalam mewujudkan kemaslahatan dan penyelenggaraan aktivitas ibadah,” tutur KH Asrorun Niam dalam keterangan tulisnya.

Menurut beliau (KH Asrorun Niam) surat edaran yang diterbitkan ini sesuai dengan hasil Ijtima Ulama Komisi Fatwa Indonesia yang dilaksanakan pada tahun 2021 yang telah didiskusikan dengan para tokoh agama.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *