(Sepenggal Kisah Kurir di Bulan Ramdhan)


Kehidupan masyarakat perkotaan, bahkan kini merambah ke pedesaan, tak lepas dari kehadiran kurir paket. Sejak pagi hingga jauh malam, mereka bergerak mengukur jalan demi mengantar beragam keperluan.
Hanafi (40), saat ditemui di Jalan Raya Singosari, Kabupaten Malang, sambil duduk  santai (22/4) kemarin dibawah atap bangunan tua. Sejak pukul 08. 00 pagi, ia sudah berkeliling mengantar paket dengan metode instan di seputaran Singosari, Karangploso, dan Lawang.

Setiap hari ia lakukan tanpa kenal lelah dan lesu. Tapi, pada bulan Ramdhan ini, ia mengaku kelelahan. Dengan cuaca yang sangat panas, ia harus menahan haus dan lapar demi menjalankan sebuah kewajiban (puasa). Situasi itu sangat berat baginya ia jalani. Ditambah lagi, paket harus terselesaikan semua agar bisa memenuhi target yang ditentukan.  Bahkan, ia terkadang harus buka puasa di jalan ketika didapati barang belum semuanya terantarkan. “Jauh dari keluarga itu sudah pekerjaan ku mas. Mau gimana lagi walaupun ingin rasanya berbuka puasa dengan keluarga,” kata dia.

Dalam sehari, terkadang ia membawa 50 paket, terkadang 100 paket dengan cara Cash on Delivery (COD). Untuk tempat peristirahatan dikala lelah, ia mengaku mampir di masjid sejenak. Selepas itu, ia beranjak menjalankan rutinitas tersebut.
Terkadang, ia harus berurusan dengan penerima paket, ia sering menerima komplain karena paket sampai ke tangan pembeli sedikit terlambat. “Ya gima lagi mas, yang disalahin pasti kami, padahal kami hanya tukang antar saja. Beruntung tidak sampai mengarah ke Fisik,” kata dia.  

Kisah Hanafi itu tentu sepenggalan kisah sedih dari para kurir lainya yang kehadirannya sangat dibutuhkan di tengah-tengah masyarakat.

Dalam kisah yang lain, Hasan Muhajir (35) sambil beristirahat seusai shalat Jumat, ia sering mengantarkan orderan yang jaraknya jauh. “Bagi saya jauh mas, pernah ke pelosok Kebon Agung sana,” kata dia.
Cuman, ia tidak separah Hanafi, hanya saja melewati jalan berliku dan berbukit-bukit. Dalam ceritanya, selama 5 tahun bekerja jadi kurir, baru kali ini ia mendapatkan bingkisan berupa uang, makanan untuk berbuka puasa. Tahun lalu juga ada, tapi katanya tidak ebesar tahun 2022 ini.” Kalau sampai dipukul belum pernah, kalau dikasih uang, makanan, Al hamdulillah sering,” kata dia.

Dalam beberapa kasus, ada kurir yang mengalami luka ringan hingga berat. Cerinya, keseringan mereka saat memasuki plosok-plosok desa yang banyak para begal, mereka keseringan dihadang. Namun, bagi Hanafi, dan Hasan, kisah itu hanya sebatas kisah. Walaupun kisah itu sudah banyak terjadi, ia tetap bekerja menjadi kurir yang harapannya semoga kejadian pahit tersebut tidak menimpa padanya. “Berbicara soal gaji ya mas, tergantung Jumlah barang yang dibawa. Kalau dibilang berat ya berat jadi kurir, libur pun jarang. Tiap hari harus masuk dan resikunya pun juga tinggi. Cuman, pekerjaan itu harus dinikmati biar berkah,” tutup dia.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *